Mengapa kita harus mengkritisi masalah ini? Berikut adalah fakta-fakta yang jelas tampil secara kasat mata. TV hari ini telah dikendalikan oleh kekuatan besar yang bernama kepentingan politik. Contoh: TV yang satu dikuasai oleh sebuah partai politik yang sudah kuat; sedangkan TV yang lain, dikuasai oleh partai lain yang tengah memopulerkan diri meraih simpati publik.
Kepentingan politik telah menjadi faktor pengalah. Sementara publik tidak memiliki banyak pilihan. Akhirnya, mau tidak mau, rela tidak rela, publik menentang mentah-mentah info yang disajikan meski bias dan sarat dengan kepentingan politik ini.
Dalam konteks seperti ini, kita rindu pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengelola isu publik dengan cerdas. Sehingga, dengan pengelolaan isu ini, dengan sendirinya publik bisa terdidik dengan cerdas pula. Politik akal sehat memberi ruang bagi siapapun untuk berwacana, saling mengkritik, berargumen, tetapi dengan kerangka yang cerdas dan santun. Dengan demikian, keindahan berdemokrasi dengan sendirinya terbangun. Rakyat cerdas, birokrat cergas.
Politik akal sehat itu sesungguhnya pernah dengan sangat baik dipraktikkan oleh pemimpin bangsa ini. Sejarah mencatat bagaimana seorang Soekarno berdebat hebat dengan lawan-lawan politiknya: Natsir, Isa Anshari, Hatta, dan sebagainya. Konstruksi perdebatan sangatlah indah. Rakyat selalu menunggu bagaimana argumentasi diadu dengan kemahiran menulis dan berorasi. Suasana perdebatan sangat panas. Sastrawan Taufik Ismail bahkan menggambarkan suasana tersebut seperti: “Panggung yang terbakar”. Tetapi visi dan keyakinan politik tersebut tidak berimplikasi kepada perilaku sehari-hari. Tidak ada kebencian dan sentimen hanya karena berbeda pandangan dan argumentasi. Alhasil, rakyat terdidik untuk bisa menakar perbedaan.
Dulu, seperti kita ketahui, semua visi politik diperdebatkan di panggung dan rakyat menjadi juri terakhir. Semua boleh menawarkan gagasan, tetapi hasil akhir pada rakyat. Gagasan dan visi yang tidak mendapatkan dukungan, tidak lantas dibunuh atau dilenyapkan. Tidak boleh dan tidak ada provokasi yang ditunjukkan oleh elit ini. Apalagi sikap-sikap ekplisit yang menunjukkan sikap benci dan ketidaksukaan atas seseorang. Lawan politik dimaknai tetap sebagai kawan seperjuangan, dengan cita-cita yang sama: membangun bangsa ini.
Maka sudah sewajarnya kita kembali menengok lagi ke lubuk hati terdalam. Pada gagasan idiil mengenai: Apa itu kemerdekaan? Bagaimana membangun bangsa? Untuk apa kita terus bermufakat sebagai bangsa? Serta sejumlah pertanyaan reflektif lain yang harus kita ajukan bersama-sama kepada kita sendiri.
Kita tidak mungkin membangun sebuah bangsa masa depan yang semangatnya dirapuhi oleh ketidakpercayaan kita pada sesama bangsa; kita juga tidak mungkin menjamin keberlangsungan bangsa ini jika sentimen adalah sikap yang diajukan kepada khalayak; kita juga tidak mungkin meneruskan cita-cita mulia para pendiri bangsa ini, jika pada saat yang sama kita juga menghacurkan warisan-warisan sikap mulia yang pernah dicontohkan mereka.
Politik akal sehat adalah jalan yang harus terus menerus kita dorong dan kita bangun untuk terus memberikan kepastian kepada anak-anak bangsa di masa mendatang bahwa Indonesia akan terus ada, dan selalu ada, dan berjaya! Hidup Indonesia. []













