Brighten Institute

Visitor Map

site statistics

KOLOM: Sikap Kami

Pengubah

Indonesia saat ini bisa dikatakan sebagai bangsa yang sedang mengalami transformasi besar-besaran dari sistem otoriter (bahasa Filsafat Politiknya: Autoritarian) ke bangsa yang demokratis. Demokrasi sendiri bukanlah kata benda yang secara maknawi merupakan akhir dari sebuah goal (tujuan) sebuah bangsa. Tetapi demokrasi dalam konteks Indonesia kini dan di sini berarti proses yang terus berproses menjadi: menjadi demokratis; menjadi Indonesia.

Read more...
 
Meninjau Kembali Sistem Pemilu

Tahun 2014 seolah sudah di depan mata. Padahal masih 2 tahun lagi. Tetapi masing-masing pihak yang berniat tampil di jajaran elit politik negeri ini sudah berbenah. Mencitrakan diri sebagai “agen” rakyat yang peduli, serta sederet bencitraan lain yang kadang “lebay”.

Sistem pemilu sebenarnya merupakan puncak dari apa yang kita sebut sebagai kaderisasi. Seolah menjadi semacam ujian akhir bagi seseorang yang merasa dikader oleh bangsa untuk memperbaiki negeri ini, proses memenangi pertarungan dalam pemilu seperti ujian akhir nasional bagi siswa. Di mana kelulusan seperti jalan mutlak  yang harus diraih karena mewakili citra pribadi sukses.

 

Read more...
 
Antara Teori dan Praktek dalam Konteks Reforma Agraria
Bulan-bulan ini, peneliti Brighten Insitute sedang disibukkan melakukan studi di empat wilayah yaitu: Solo, Cilacap, Tasik, dan Bandar Lampung. Tema dari kegiatan ini adalah menelaah mengenai kelembagaan agraria yang ada dalam masyarakat desa dan kota, baik yang bersentuhan dengan agenda reforma agraria langsung, atau yang dilakukan secara lokal oleh pemerintah setempat.
Read more...
 

Latest Comments

  • Agraria adalah persoalan rumit. untuk itu, perlu s...
    09.02.12 09:14
    By Malam
  • metode baru dalam menghasilkan listrik, tidak butu...
    21.01.12 01:37
    By teguh
  • Kami mendukung jika pemerintah mau berkorban untuk...
    12.01.12 08:25
    By manci
  • Pemerintah harus tegas dan berani. Jika hanya main...
    12.01.12 08:18
    By manci
  • Kebijakan pemerintah akan membantu berkembang tida...
    09.01.12 13:24
    By Mari

Who's Online

We have 4 guests online

Hit Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday55
mod_vvisit_counterYesterday71
mod_vvisit_counterThis week126
mod_vvisit_counterLast week446
mod_vvisit_counterThis month870
mod_vvisit_counterLast month357
mod_vvisit_counterAll days7612

Persoalan Impor Beras Indonesia

E-mail Print PDF

hsr_Akhir-akhir ini impor beras ramai dipersoalkan. Persoalan ini disulut oleh keputusan Pemerintah untuk mengimpor beras sebanyak 250 ribu ton dalam waktu dekat. Alasan dilakukannya impor tersebut adalah agar harga beras tidak terlalu tinggi saat harga BBM dinaikkan. Cukup kuatkah alasan Pemerintah ini?

Logika ekonomi menyatakan bahwa bila suatu negara memproduksi komoditas tertentu lebih banyak dari yang dikonsumsinya, maka surplus produksi tersebut umumnya akan diekspor. Kalau pun ada yang diimpor, impor tersebut hanyalah sebagian kecil, untuk memenuhi permintaan konsumen domestik terhadap kualitas (atau jenis yang agak) berbeda dengan yang diproduksi di dalam negeri. Pasar beras Indonesia tidak mengikuti logika ini.

 Impor Beras Menguras Devisa dan Menekan Pendapatan Petani

Terlihat pada Tabel bahwa dalam lima tahun terakhir, produksi beras Indonesia senantiasa melebihi konsumsi total beras. Namun impor jalan terus. Pada periode 2000-2003, impor beras berkisar antara 0.7 hingga 1.8 juta ton, dengan rata-rata 1.3 juta ton per tahun. Rasio impor terhadap produksi beras tampaknya memang “tidak terlalu besar”, yaitu berkisar 2.2 hingga 6.1 persen, atau rata-rata 4.4 persen. Akan tetapi, jumlah impor tersebut ternyata cukup menguras devisa negara. Setelah memperhitungkan penerimaan dari ekspor beras (yang jumlah rata-ratanya hanya 5600 ton per tahun), impor tersebut bernilai antara 144 hingga 344 juta US$, atau rata-rata 276 juta US$ per tahun. Dengan kurs rata-rata periode tersebut Rp 9400/US$, ini setara dengan Rp 2.6 triliun per tahun!

Attachments:
Download this file (05-10-Hermanto Siregar - Artikel Eksekutif Okt 2005.pdf)bi00544 Kb295 Downloads
Last Updated ( Monday, 31 October 2011 06:29 )  

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Home Opinion Hermanto Siregar Persoalan Impor Beras Indonesia