
'Menuju Pandangan Relasional Mengenai Kemiskinan'
Penulis: Moh. Shohibuddin & Endriatmo Soetarto
Pada galibnya, kemiskinan oleh para perencana pembangunan dan pengambil kebijakan lebih sering dilihat sebagai sebuah “kondisi” ketimbang “konsekuensi”. Sebagai kondisi, maka parameter yang digunakan untuk melihat kemiskinan adalah ukuran-ukuran yang statis, seperti kondisi tempat tinggal, jenis dan jumlah asupan gizi, tingkat pendapatan, tingkat kepemilikan aset, dan sebagainya. Kemiskinan merupakan “atribut negatif” dari ukuran-ukuran ini dalam suatu gradasi. Demikianlah maka kondisi kemiskinan dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Departemen Sosial misalnya, memperkenalkan istilah: Keluarga Pra Sejahtera, Sejahtera I, Sejahtera II, Sejahtera III, dan Sejahtera III plus. Berdasarkan ini, maka intervensi-intervensi kunci dapat disusun, direncanakan, dan kemudian dilaksanakan untuk dapat “mengentaskan” keluarga-keluarga miskin dari satu jenjang ke jenjang yang lebih tinggi.
Pandangan semacam ini pada dasarnya adalah konstruksi mengenai kemiskinan yang a-historis karena melepaskannya dari perkembangan sejarah berikut aneka faktor yang membentuk dan mempertahankannya. Kemiskinan dalam hal ini justru dianggap sebagai ciri sosial yang discrete, terukur dan gamblang; ketimbang melihatnya sebagai bersifat relasional dan terkait dengan hubungan-hubungan kuasa yang dinamis dalam konteks ruang dan waktu. Bagaimanapun, cara pandang seperti itulah yang kemudian memungkinkan pengukuran kemiskinan menurut indikator-indikator kuantitatif yang tentu saja berlaku generik, tanpa mempedulikan keragaman konteks dan sejarah.















Opinion
Comments
Lembaga ini memiliki kapasitas untuk melaksanakannya . Hanya saja tidak kunjung dilaksanakan dengan berani.
Salam
Malam
RSS feed for comments to this post