I. Energi Alternatif Pengganti BBM
Dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tidak terbatas pada masalah rumah tangga, akan tetapi memberikan dampak lain kepada sektor aktivitas lainnya seperti transportasi, industri, bahkan pembangkit listrik. Kenaikan BBM kali ini berbeda dengan kenaikan-kenaikan BBM periode sebelumnya. Kenaikan pada periode Oktober 2005 tenyata telah mendorong banyak kalangan untuk memikirkan energi alternatif pengganti BBM. Gagasan energi pengganti yang muncul akhir-akhir ini adalah batubara dan bio-fuel.
Tabel 1. Perkembangan Cadangan Minyak dan Gas Bumi Indonesia dari Tahun 1995-2000
Sumber: Ditjen Migas/DMPP (dalam Redaksi BTPE, 2000)
Kedua dalam hal bio-fuel, pemerintah pun mendorong penggunaan energi terbarukan, yaitu minyak jarak sebagai pengganti solar, ethanol dari tebu sebagai campuran premium, dan kelapa sawit (CPO) sebagai pengganti minyak diesel. Negara-negara lain seperti Brazil, Amerika, Swedia, Jerman, Australia, Cina, dan Ghana sudah lebih dulu menggunakan bio-fuel dan biodiesel menjadi energi alternatif untuk menunjang aktivitas ekonominya. Brazil misalnya menggantikan bahan bakar untuk transportasi dengan ethanol dari bahan dasar tebu. Sedangkan Amerika memproduksi ethanol dengan menggunakan bahan baku jagung.
II. Potensi Pasokan Energi untuk Energi Alternatif
Pada era 1960an energi merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Pada kurun waktu 1960-1969, dibutuhkan 1,97 persen pertumbuhan konsumsi energi untuk menghasilkan satu persen pertumbuhan ekonomi. Berbeda pada era tahun 2000an pertumbuhan konsumsi energi lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Konsumsi energi nasional didominasi oleh minyak bumi yang mencapai 65% dari total kebutuhan energi, selebihnya gas (14%), listrik (11%), dan batubara (8%). Penggunaan sumberdaya energi yang tidak seimbang ini telah mempercepat Indonesia menjadi negara pengimpor minyak netto. (Primakelola, 2005)
III. Energi Alternatif Berbasis Potensi Sumberdaya Renewable dan Non Renewable
a. Energi Alternatif Berbasis Sumberdaya Renewable
Indonesia memiliki kekayaan alam dengan keragaman (biodiversity) yang besar, sehingga sudah seharusnya kita mengembangkan dan memanfaatkan sumber energi yang dapat diperbaharui. Hingga saat ini, BPPT sedang mengembangkan tiga jenis bio-fuel yaitu bio-ethanol, bio-diesel, dan bio-oil.
Bio-ethanol dibuat dari biomassa yang mengandung karbohidrat tinggi seperti singkong, limbah pabrik tapioka, molase atau tetes tebu, limbah serbuk gergaji, dan lainnya. Demikian pula dengan biodiesel dan bio-oil yang dapat dibuat lebih dari 40 jenis minyak nabati seperti biji jarak, biji bunga matahari, kacang tanah, kedele, kelapa, sawit (CPO), kemiri, dan lain-lain.
Hasil kajian BPPT menunjukkan bahwa penggunaan bio-fuel sebagai substitusi bahan bakar untuk sektor transportasi mempunyai tingkat kelayakan teknologi yang paling tinggi dibandingkan dengan opsi lainnya. Produksi biodiesel dari CPO maupun bio-ethanol berbasis pati sampai skala pilot sudah terbukti. Pengujian pada mesin/mobil sudah dilakukan dan menunjukkan tingkat kelayakan dan kematangan untuk ditingkatkan menjadi skala industri.
b. Energi Alternatif Berbasis Sumberdaya Non Renewable
Dalam rangka substitusi impor BBM di masa mendatang Indonesia akan secara intensif untuk mengolah gasifikasi dan pencairan barubara yang akan dipergunakan sebagai bahan bakar sektor transportasi. Selain gasifikasi batubara, peran briket batubara untuk sektor industri dan rumahtangga mulai semakin digalakkan. Walaupun briket batubara belum memasyarakat, namun sudah dipakai oleh beberapa sektor usaha seperti industri-industri dodol, gula merah, mie, keripik, bata, genteng, kapur, pengolahan kulit, dan lain-lain (Tabel 3). (Kompas, 03/10/2005).
Tabel 3. Perkiraan pemakaian briket batubara di Jawa dan Bali (Ton )

Hasil kajian BPPT menunjukkan bahwa dengan asumsi harga batubara (Berau) di mulut tambang antara US$ 14,7-16 per ton batubara kering, akan dapat diproduksi minyak sintetis dengan harga sekitar US$ 23,4/barel untuk kapasitas 54.000 barel/hari. Jika dibandingkan dengan harga minyak mentah dunia saat ini yang melebihi US$ 40/barel, dapat disimpulkan bahwa harga batubara cair produk Berau ini cukup murah. Hasil uji mutu produk produk menunjukkan bahwa BBM sintetis dari percairan batubara sudah dapat memenuhi standar minyak Indonesia.
c. Komparasi Energi Alternatif Batubara dan Bio-fuel
Berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh kedua energi alternatif tersebut di atas, maka penting kiranya bagi kita untuk mencermati dampak dan manfaat masing-masing.
Dalam Kompas (18/08/2005) disebutkan efek dari polusi batubara ini sebagai efek gigaton carbon pada atmosfer yang sangat berbahaya bagi kelangsungan bumi itu sendiri. Selain itu kandungan sulfur yang dihasilkan dari pembakaran batubara dapat menimbulkan hujan asam, kenaikan suhu global, serta gangguan pernapasan. (www.islamuda.com). Untuk bio-fuel seperti biodiesel walaupun menghasilkan karbon yang disinyalir dapat menyumbang emisi gas di udara namun masih bersifat biodegradable dan memberikan emisi yang lebih baik (free sulfur, smoke number rendah). (Primakelola, 2005)
Secara ekonomis, kemampuan memasak 1 kg briket batubara seharga Rp. 1000, setara dengan satu liter minyak tanah (Rp 2000). Sedangkan menurut Walhi (2005), meski briket batubara terlihat murah, tetapi satu kilo briket batubara hanya mengandung 60 persen energi (5.500 kcaI) yang dikandung satu liter minyak tanah (8.900 kcaI), dan kurang dari separuh energi yang dikandung satu kilo elpiji (11.900 kcaI). Lihat Kompas (07/08/2005).
Untuk energi terbarukan, jika diasumsikan harga bio-oil adalah Rp 1.000/liter, nilai kalori 1 liter bio-oil setara dengan 0,65 liter minyak bahan bakar, atau untuk mencapai nilai kalor dari 1 liter minyak bahan bakar diperlukan 1,54 liter bio-oil atau seharga Rp 1.540. (harga minyak bakar 2.400/liter). (Primakeloka, 2005)
Tabel 2. Perbandingan Harga bensin, Solar, gas Alam Cair (LNG) Gas Propana (LPG), Bio-Fuel Ethanol 85%, dan Biodiesel 20% (November 2004 – Maret 2005)
IV. Regulasi Percepat Pengembangan Energi Terbarukan
Pengembangan energi terbarukan masih jalan di tempat. Selain terkendala masalah regulasi, khususnya mengenai harga, juga belum ada dukungan perbankan yang siap membantu pengembangan proyek-proyek energi terbarukan. Terwujudnya sumber bahan bakar yang renewable sebagai upaya untuk mengembangkan diversifikasi energi, sangat tergantung dari sebuah regulasi (UU Energi) yang mendukung pengembangan energi terbarukan tersebut. (Investor Daily, 2004).
Dalam hal yang berkaitan dengan energi baru dan energi terbarukan, pemerintah melalui Draft RUU Tentang ENERGI Bab IV Pasal 13, berkomitmen : Untuk jangka waktu tertentu Pemerintah memberikan kemudahan berupa keringanan pajak, keringanan bunga pinjaman dalam permodalan, dan lain-lain untuk mendorong pengusahaan, penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan. Pemberian kemudahan dimaksudkan untuk mendorong pengusaha melakukan kegiatan bisnis di bidang energi baru dan energi terbarukan.
V. Implikasi Kebijakan
Ketersediaan energi alternatif kini sudah menjadi kebutuhan jangka pendek oleh karena itu penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif yang berasal dari energi baru dan energi terbarukan perlu ditingkatkan guna mendukung pembangunan energi yang berkelanjutan.
Dalam memutuskan jenis bahan bakar alternatif perlu dilakukan penelitian uji kelayakan, terutama bagi pengguna baru dan bukan memelalui keputusan kebijakan ekonomi yang hanya disosialisasikan Iewat siaran pers. Sebab, di antara bahan bakar untuk memasak, batubara paling berisiko karena banyak mengandung zat-zat beracun seperti sulfur, merkuri, arsenik, selenium, dan flourida.
Penelitian dan pengembangan untuk mendapatkan bio-fuel dari tanaman non-edible seperti jarak pagar untuk bio-diesel dan bioethanol berbasis selulosa masih perlu dilakukan agar tidak terjadi persaingan dengan minyak yang edible. Sedangkan untuk meminimalkan dan mengatasi dampak serius dari pemanfaatan batubara diperlukan suatu kebijakan pengolahan yang berbasis clean coal combustion melalui desulfurisasi batubara baik secara mikrobiologi ataupun secara kimiawi.
Penulis adalah Junior Scholar pada Brighten Institute; dan Alumnus Pascasarjana IPB. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.















Opinion
Comments
RSS feed for comments to this post