|
|
|
Pentingnya Memacu Investasi Sektor Pertanian |
|
|
|
|
Written by Indra
|
|
Thursday, 21 August 2008 15:55 |
Sektor pertanian masih memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Setidaknya ada empat hal yang dapat dijadikan alasan. Pertama, Indonesia merupakan negara berkembang yang masih relatif tertinggal dalam penguasaan Iptek muktahir serta masih menghadapi kendala keterbatasan modal, jelas belum memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) pada sektor ekonomi yang berbasis Iptek dan padat modal. Oleh karena itu pembangunan ekonomi Indonesia sudah selayaknya dititikberatkan pada pembangunan sektor-sektor ekonomi yang berbasis pada sumberdaya alam, padat tenaga kerja, dan berorientasi pada pasar domestik. Dalam hal ini, sektor pertanianlah yang paling memenuhi persyaratan.
|
|
Last Updated ( Thursday, 21 August 2008 16:02 )
|
|
Read more...
|
|
Masalah Kerawanan Pangan dan Upaya Penanggulangannya |
|
|
|
|
Written by Hermanto Siregar
|
|
Thursday, 21 August 2008 12:25 |
|
Akhir-akhir ini masalah busung lapar melanda anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) di beberapa propinsi di Indonesia. Salah satu harian nasional (pada tanggal 28 Mei 2005) memperkirakan 8 persen balita Indonesia menderita masalah tersebut. Jika angka ini benar, artinya terdapat sekitar 1,7 juta balita yang menderita kasus busung lapar. Suatu jumlah yang besar, yang seyogianya tidak dipandang sebagai masalah jangka pendek semata. Satu generasi ke depan, masalah tersebut dapat berubah bentuk menjadi masalah lainnya, yaitu angkatan kerja yang brainless atau tidak pintar, yang berjumlah sekitar satu juta orang (bila 60 persen di antara penderita busung lapar tersebut survive hingga menjadi angkatan kerja). Tentunya hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian lokal, di tempat-tempat terjadinya masalah busung lapar dan gizi buruk tersebut. Singkat kata, masalah tersebut adalah masalah kritikal yang harus ditangani secara serius.
Sesungguhnya busung lapar, sebagai salah satu perwujudan ‘rawan pangan’, bukanlah masalah baru. Masalah ini sering berulang, terutama pada saat-saat gagal panen yang sering disebabkan oleh kekeringan, di daerah-daerah yang tergolong miskin. Pertanyaannya ialah mengapa masalah itu terjadi sampai berulang-ulang? Tidak dapatkah kita mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang lalu? Jika dapat, sudah benarkah pemahaman kita terhadap pelajaran tersebut? Atau sederhananya, sudah cukup seriuskah kita menangani masalah tersebut?
|
|
Last Updated ( Thursday, 21 August 2008 13:29 )
|
|
Read more...
|
|
Negara dan Rakyat: Siapa Berhak atas Tanah ? |
|
|
|
|
Written by Endriatmo Sutarto
|
|
Thursday, 21 August 2008 11:35 |
Baru-baru ini kita pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan dalam bentuk Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang kewenangan negara mencabut hak atas pemilikan tanah masyarakat dalam rangka kepentingan umum dan pembangunan. Peraturan Presiden telah menimbulkan 2 reaksi berlawanan dari masyarakat.
Pertama, terkejut dan tidak sepakat, alasannya karena mereka menilai bahwa ternyata pemerintah tidak punya kepekaan sosial yang cukup atau memang ‘nekad’ mengeluarkan peraturan presiden (Perpres) itu. Padahal menurut mereka dewasa ini kita sedang berada di tengah-tengah upaya mendorong lebih kuat berjalannya proses demokrasi dan penguatan hak-hak rakyat sipil. Menurut mereka, pemberlakuan Perpres mengingatkan orang pada praktik-praktik pemerintah Orde Baru dalam mengambil paksa tanah-tanah rakyat, baik yang di kota maupun di pedesaan dengan mengatasnamakan pembangunan sehingga menimbulkan penggusuran dan konflik agraria. ‘Korban pembangunan’, adalah istilah yang kerap terucap di kalangan rakyat yang kehilangan tanahnya akibat digusur untuk pembangunan hotel, mal, permukiman eksklusif, dan lain-lain yang condong hanya menguntungkan lapisan menengah atas saja.
|
|
Last Updated ( Thursday, 21 August 2008 13:26 )
|
|
Read more...
|
|
Masalah Agraria dan Menanggulanggi Masalah Kemiskinan |
|
|
|
|
Written by Endriatmo Sutarto
|
|
Thursday, 21 August 2008 11:30 |
|
Bank Dunia menyebutkan lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia tergolong miskin dengan penghasilan di bawah 2 dollar AS atau sekitar Rp. 18.310 per hari. Jumlah penduduk miskin itu setara dengan gabungan dari jumlah penduduk Malaysia, Vietnam, dan Kamboja sehingga sebagian besar penduduk miskin di Asia Tenggara berada di Indonesia (Kompas, 24 Januari ’05). Selanjutnya dikutip pernyataan ekonom senior Bank Dunia Jehan Arulpagasam yang mengatakan penanggulangan kemiskinan di pedesaan itu harus diisi dengan program berskala besar pada investasi jalan di pedesaan, karena itu merupakan cara paling efektif dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sekitar 5 % penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap jalan-jalan yang layak.
|
|
Last Updated ( Thursday, 21 August 2008 13:30 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
|
|
Page 6 of 7 |
dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...