Menu Utama
Komentar Terbaru
Statistik Pengunjung






![]() | Hari ini | 62 |
![]() | Kemarin | 39 |
![]() | Pekan ini | 138 |
![]() | Bulan ini | 377 |
| Pangan Harus Prioritas |
|
|
|
| Written by Administrator | ||||||
| Tuesday, 14 October 2008 15:21 | ||||||
|
Diskusi diawali dengan presentasi yang disampaikan oleh Dr. D.S. Priyarsono (Sonny). Menurut Sonny, produksi biofuel meningkat cukup signifikan beberapa tahun terakhir, karena adanya dukungan dari beberapa kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah. Sedangkan menurut Harianto, dalam masalah biofuel ini, Harga pasti mempunyai pengaruh antara satu dengan yang lain. Menurut Plt Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Wahono Sumaryono, pada level internasional ada trilema antara food, energy, dan environment. Semua pihak setuju bahwa food security adalah prioritas. Grand strategy food security sangat logis. Untuk mengatasinya, maka diperlukan diversifikasi, intensifikasi, inovasi teknologi hulu dan hilir, social engineering dalam konteks penganekaragaman pangan, perbaikan struktur perdagangan komoditi pertanian, law enforcement.
Untuk itu, lanjut Sunaryo, perlu ada pemetaan agar pengembangan lebih lanjut dapat tepat. Jika master plan di Jawa melalui kewenangan desentralisasi ini dilaksanakan, maka 40 persen sawah di Jawa akan lenyap. Sebab pemeliharaan irigasi teknis tergantung kepada kesadaran dari para pemimpin daerah. Bahkan, saat ini kandungan organik sudah di pulau Jawa sudah berada di bawah 2 persen. Padahal pada tahun 1900, masih sembilan persen. Artinya terjadi degradasi kandungan organik dalam 100 tahun sebanyak tujuh persen. Sedangkan menurut Reni Kustiari, MSc, dari Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pertanian, Badan litbang sudah mengusahakan agar setiap wilayah mengintensifkan penanaman komoditas tertentu. Belakangan ini, ada sentimen masyarakat internasional bahwa komditas biofuel yang merupakan komoditas pangan agar dikurangi. Diskusi semakin menarik ketika Zulfan Tadjuddin, mahasiswa Ph.D dari University of Western Sydney, mempertanyakan “sampai mana yang disebut sebagai batas aman dalam ketahanan pangan; sampai mana food security akan terancam. Selain itu, karena masalah yang sangat kompleks, perlu lebih banyak melakukan studi mikro per komoditas mengenai pola kompetisi di daerah. Apalagi dalam konteks otonomi daerah, ada persoalan serius dalam masalah irigasi. Perlu ada kajian konteks ketahanan pangan dan enegy dalam era desentralisasi". Akhirnya, acara ditutup oleh kesimpulan Prof Hermanto Siregar yang juga merupakan Direktur Ekonomi dan Lingkungan Brighten Institute. Sebelumnya, Prof Hermanto mengundang kepada peserta untuk hadir pada Public Consultation yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober di IPB International Convestion Center (IICC).
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Last Updated ( Tuesday, 14 October 2008 15:59 ) |







Pada hari Selasa (14/10), Brighten Institute bekerja sama dengan Korea FAO Assosiation, kembali mengadakan Focus Groups Discussion (FGD) di Ruang Flamboyan, Manajemen Bisnis IPB Bogor. Acara ini merupakan rangkaian dari kajian sistematik yang bertema: “Challenge to Current Agriculture Development in Indonesia: Competition Between BioFuel and Food Security” .
Lebih lanjut, Dr. Wahono Sumaryono menegaskan bahwa dalam konteks biofuel, pada tataran riil didasarkan pada keputusan mentri ESDM terbaru. Di mana sebagian besar kapasitas produk komoditas terkait ternyata digunakan untuk non-energi. Masalahnya dibutuhkan kapasitas pabrik yang cukup untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Alternatif jangka pendek bisa menggunakan cassava sebagai sumber bioetanol, sedangkan untuk jangka panjang bisa sweet sorghum yang dapat dikembangkan karena buahnya bisa dimanfaatkan untuk pangan. Sementara batangnya bisa dimanfatkan untuk bioetanol karena mengandung gula. Sedangkan untuk biodiesel dalam jangka pendek bisa menggunakan CPO. Namun untuk jangka panjang bisa menggunakan Jatropa atau Jarak Pagar. Akan tetapi, pengembangan Jarak Pagar ini kurang menarik bagi petani karena harganya yang rendah.
Menurut Prasetyo Sunaryo, anggota Dewan Riset Nasional dan juga peneliti di BPPT, dalam tekanan liberalisasi perdagangan, yang belum kita lakukan adalah menentukan prioritas komoditi. Sebab seperti yang terjadi saat ini, sepertinya semua dibiarkan dalam skema perdagangan bebas. Padahal di negara-negara maju, subsidi dan pembatasan untuk masalah pangan masih tetap dilakukan. Energi dan pangan harus diposisikan sebagai komoditas khusus yang harus mendapatkan special treatment.
dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...