Home Section Blog Sikap Kami Challenge to Current Agriculture Development in Indonesia

Menu Utama

Visitor Map

site statistics

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini55
mod_vvisit_counterKemarin39
mod_vvisit_counterPekan ini131
mod_vvisit_counterBulan ini370
Sejak Januari 2008

Challenge to Current Agriculture Development in Indonesia PDF Print E-mail
Written by Hermanto Siregar   
Wednesday, 22 October 2008 17:27

catatan editor:

Berikut ini adalah kesimpulan sementara yang dari hasil FGD "Challenge to Current Agriculture Development in Indonesia: Competition Between BioFuel and Food Security” yang dibacakan Prof Dr. Ir. Hermanto Siregar. Selamat membaca.

 

  1. Masalah yang paling penting adalah bagaimana supaya berbagai desain kebijakan yang ada, baik untuk pengembangan BBN maupun upaya untuk meningkatkan dan mempertahankan food security, bisa dipastikan probabilitynya untuk implementasi. Seperti yang kita sepakati bersama, bahwa prioritas pertama kita adalah food security. Apabila food securitynya, terutama dalam hal ketersediaan bisa kita capai, bahkan kita tingkatkan, maka isu-isu berikutnya yaitu biofuel atau biodiesel developmentnya bisa kita capai juga.

  2. Aspek kelembagaan juga sangat penting untuk kita perhatikan dan perdalam. Belajar dari pengalaman, kita semua tentu masih ingat bahwa kita tidak akan pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984, apabila pada awal tahun 1970 kita tidak membuat breakthrough dalam hal institution yaitu BIMAS. Saat itu dibutuhkan waktu 14 tahun (1970-1984) supaya hasilnya bisa dicapai. Apabila dengan kemajuan teknologi bisa diperpendek menjadi setengahnya, paling tidak kita butuh waktu sekitar 7 tahun untuk bisa memperkuat kedua-duanya, yaitu bagaimana membuat food security dan biofuel satu sama lain tidak trade off. Ini adalah PR bagi Brighten untuk mengelaborasikan usulan pengembangan kelembagaan yang bagaimana seharusnya dilakukan.

  3. Setiap kegiatan yang sangat membutuhkan banyak tanah, tentunya sangat tergantung dengan komitmen dan willingness dr Pemda. Satu hal yang perlu kita sadari adalah Indonesia negaranya saja yang sangat luas, tetapi rasio lahan pertanian per populasi sebenarnya tidak terlalu luas. Kita kalah luas jika dibandingkan Vietnam dan setara dengan Bangladesh, kira-kira 740 ha/orang. Amat sangat jauh di bawah Amerika, China, dsb. Oleh karena itu, isu ini memang harus diselenggarakan di daerah yang tepat, artinya aspek spasial menjadi sangat penting. Pewilayahan yang tepat serta insentif itu sangat penting, jika kita memiliki komitmen untuk mengembangkannya. Tanpa insentif, ini akan sulit sekali untuk dikembangkan. Insentif tidak harus berupa subsidi, tapi infrastruktur, maupun fasilitas dan logistik, serta kemudahan pajak.

  4. Terakhir dibutuhkan semacam follow up, baik yang sudah disusun oleh TimNas BBN maupun yang sudah berkembang pada FGD 1, FGD 2, dan Workshop. Harus dipikirkan dimana ini bisa dijadikan sebagai action lanjutan, apakah itu bisa diperkuat atau diperbesar lagi dengan melibatkan pihak luar atau barangkali dengan dana luar, atau sesuatu yang baru. Itu semua bisa kita angkat untuk dikembangkan. Kebetulan kita punya mitra yang baik dengan Korea FAO Association, pemerintah Korea, KOICA, ataupun dengan pengusaha-pengusaha di Korea. Sudah ada komitmen secara lisan untuk secara faktual mengembangkan ini dengan mutual basis, jd saling menguntungkan. Aspek mikro juga sangat memungkinkan untuk dilakukan, khususnya melalui kerjasama-kerjasama penelitian. Sambil itu berjalan, kita sudah perlu juga mengembangkan secara riil, kalau tidak akan sangat terlambat.

  5. Hasil exercise mengenai model ekonometrik juga harus dikembangkan lebih lanjut. Kami juga sudah melakukan analisis CGE mengenai kemungkinan bagaimana  mengatasi masalah trade off antara ketahanan pangan dan bioenergi development. Ada beberapa skenario, namun secara umum adalah “mana yang lebih penting bagi kita untuk menghindari trade off itu, melalui upaya peningkatan produktivitas atau melalui perluasan”. Dari hasil awal CGE (initial result), yang paling efektif adalah meningkatkan produktivitas. Ini tentu sejalan dengan negara kita yang memiliki lahan yang tidak terlalu besar. Pengembangan produktivitas artinya basisnya adalah Litbang (penelitian dan pengembangan). Oleh karena itu, pemerintah harus invest untuk penelitian dan pengembangan. Price policy ternyata tidak banyak manfaatnya (dari hasil analisis CGE). Price policy hanya temporary item saja. Bentuk “industri awal” ini membutuhkan semacam komitmen, intervensi, sehingga pada saat diberikan intervensi price support dsb, akan secara terukur, katakanlah 3-4 tahun, tapi dalam waktu yang bersamaan R&D itu harus dikembangkan secara maksimal, sehingga pada saat price support dicabut, competitiveness atau produktivitasnya sudah tinggi, sudah bisa bersaing dengan yang lain. Dan juga kita semua paham, dengan peningkatan produkitivitas berarti unit costnya akan lebih rendah sehingga tidak terlalu berpengaruh dengan tinggi rendahnya komoditi yang akan dijadikan feedstock itu.

 

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."