Menu Utama
Komentar Terbaru
Statistik Pengunjung






![]() | Hari ini | 56 |
![]() | Kemarin | 39 |
![]() | Pekan ini | 132 |
![]() | Bulan ini | 371 |
| Pembangunan Pertanian, Belajar dari Pengalaman Korea Selatan |
|
|
|
| Written by editor | ||||||||||||||||||||||||||||||
| Wednesday, 22 October 2008 17:53 | ||||||||||||||||||||||||||||||
|
Perang Korea (1953), bisa jadi merupakan kebangkitan kembali pembangunan pertanian di Korea Selatan. Republik Korea yang porak poranda akibat perang ditata kembali untuk menjadi punggung perekonomian masyarakat, terlebih masyarakat perdesaan yang menyandarkan kepada pertanian. Sebab setelah perang, kebanyakan warga Korea tidak memiliki rumah, lahan pertanian, fasilitas irigasi untuk mengairi sawah dan ladang, dan pohon-pohon di gunung. Selain itu, mereka juga tidak memiliki makanan untuk survive, harapan untuk hidup, dan sumberdaya alam. Namun demikian Korea tetap memiliki rakyat, di mana 30 persen dari sekitar 40 juta warga Korea adalah petani. Untuk mengatasinya, maka Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, yaitu: (1) membuat produk yang berbahan baku SDA impor dan kemudian mengekspor makanan yang sudah bernilai tambah; (2) industrialisasi; (3) Industrialisasi yang didasarkan kepada pembangunan pertanian dan pendidikan. Kemudian memasuki abad 20, terjadi perubahan kebijakan di mana pertanian diarahkan kepada: (1) Kesejahteraan masyarakat pedesaan; (2) ramah lingkungan; (3) terintegrasi dengan pembangunan masyarakat pedesaan. Selain itu, sebelumnya pemerintah juga mengeluarkan kebijakan lain yaitu memberikan kemudahan finansial dengan membentuk: (1) Farm Land Management Fund Law; dan (2) Farm Land Bank Law. Sehingga tidak menunggu waktu yang terlalu lama, terjadi perubahan signifikan khususnya di level pendapatan petani. Bahkan, rasio pendapatan petani dan atau masyarakat pedesaan pada tahun 1975-an, lebih besar daripada masyarakat perkotaan dengan rasio 111,1%. Demikian beberapa catatan mengenai “The Fungtion of Farm Land Management Law and Farm Land Bank Law in Rural Development in Korea”, yang dipresentasikan oleh Dr. Lee Kichuri dalam workshop yang bertajuk: “Integrated Support Services for Agriculture and Rural Sector” di Ruang Jati, MB IPB, Bogor pada 21 Oktober 2008. Workshop yang menampilkan peserta selain dari Indonesia juga dari beberapa negara, antara lain Philipina, Korea Selatan, dan Kenya, ini terselenggara atas kerja sama Brighten Institute dengan Food and Agricultural Organization (FAO) Regional Asia Pasific. Harapannya dari hasil kegiatan ini diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi kebijakan pertanian dan pangan di Indonesia di level dukungan pelayanan.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Wednesday, 22 October 2008 17:58 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||







dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...