Menu Utama
Komentar Terbaru
Statistik Pengunjung






![]() | Hari ini | 50 |
![]() | Kemarin | 39 |
![]() | Pekan ini | 126 |
![]() | Bulan ini | 365 |
| Tafsir Fakta dan Kekuatan Data |
|
|
|
| Written by admin | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tuesday, 17 February 2009 11:40 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Semakin panas. Demikian kesimpulan sederhana dari apa yang berlaku dalam proses ‘perang’ iklan antara—katakanlah—kubu Partai Demokrat (PD) dengan kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kedua pihak sebenarnya menggunakan amunisi yang sama: data. Hanya menjadi masalah adalah ketika keduanya mencoba memberikan tafsir yang berbeda. Perang yang dilakukan oleh PD dan PDIP memang hanya perang elit. Di mana pihak yang terlibat hanyalah segelintir elit yang paham akan bunyi sebuah data. Sedangkan bagi kebanyakan rakyat, data-data yang sangat makro tersebut jelas kurang memiliki makna berarti. Interpretasi dalam kehidupan manusia memang sudah memasuki masa yang panjang. Bahkan ketika seorang bayi pertama kali mengenal kehidupan, ia sudah mencoba menafsirkan stimulus yang diberikan sang ibu yang mengandungnya. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya, seorang manusia semakin cerdas memberikan tafsir atas stimulus yang didapatinya. Semakin beragam ia menerima stimulus, maka pengetahuan dan kemampuannya menafsir akan semakin luas. Begitu juga dalam berpolitik. Kita merasakan bahwa dalam kehidupan kepolitikan kita semakin cerdas. Minimal dalam bersikap. Bahkan dalam berpolitik, sikap adalah hal utama. Seseorang akan dihargai atau dicela jika ia menampilkan suatu sikap. Sikap yang mulya akan direspon dengan kemulyaan; sebaliknya, sikap tidak sejati akan direspon dengan ketidakpercayaan. Kita tidak akan menyoroti mengena substansi dari data yang sedang ditunjukkan oleh kedua partai yang tengah berperang tersebut. Hanya satu yang mau kita tunjukkan bahwa sekuat apapun data, maka semuanya berpulang pada dia yang mau membacanya dengan jujur atau disaluti dengan kepentingan. Termasuk para juru tafsir data yang kemudian dikunyah sebagai ‘senjata’ yang dipergunakan untuk menyerang atau menangkis serangan lawannya. Jika kita percaya bahwa politik itu adalah—meminjam kesimpulan Robertus Robet—ibu dari demokrasi, maka sejatinya kita tidak boleh mengotori kerja politik itu dengan sikap-sikap yang buruk, yang tidak semestinya dilakukan. Apalagi jika kemudian dalam proses yang kita sebut sebagai kerja politik tersebut, justru yang dilakukan hanyalah politik dagang demi suatu jabatan tertentu. Kita berharap bahwa ke depan, politik yang cerdas akan semakin tampil di jagad demokrasi kita. Sebab dengan mengetengahkan praksis politik yang cerdas, maka rakyat akan mendapatkan tontonan bermutu dan menambah pengetahuan mereka—tanpa peduli siapa yang kemudian dipilih oleh mereka.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||







dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...