Menu Utama
Komentar Terbaru
Statistik Pengunjung






![]() | Hari ini | 61 |
![]() | Kemarin | 39 |
![]() | Pekan ini | 137 |
![]() | Bulan ini | 376 |
| Etika Politik VS Etika Demokrasi |
|
|
|
| Written by editor | ||||||||||||||||||||||||||||||
| Tuesday, 24 March 2009 16:59 | ||||||||||||||||||||||||||||||
|
Menjelang pemilu digelar, beberapa partai sibuk melecut kinerja partainya agar semakin didekati dan dicintai publik. Berbagai acara digelar. Tidak ketinggalan berbagai manuver ditampilkan yang ujung-ujungnya untuk meraih simpati. Salah satu yang paling menghangat dalam kancah politik saat ini adalah akan tampilnya incumbent, SBY dan JK, pada pertarungan memperebutkan kursi presiden. Pertarungan ini agak tegang mengingat keduanya saat ini tengah bergandengan tangan mengayuh roda pemerintah. Beberapa pertanyaanpun menggayuti benak publik: bagaimana bisa, dua orang yang tengah diamanahi untuk menyukseskan masa sisa pemerintahan yang menjadi amanat rakyat, itu malah berseteru di masa akhir kekuasaannya. Bukankah itu seperti ‘tsu’ul khotimah’? Memang jika kita melirik kaidah dan diktum demokrasi, apa yang dilakukan oleh JK tidaklah salah sama sekali. Terlebih lagi, dalam Undang-undang yang berlaku pun tidak ada aturan yang melarangnya. Lalu, jika demikian halnya, mengapa mencalonkannya JK sebagai salah satu calon presiden yang terkesan ‘aneh’? Untuk menjawabnya kita akan melihat dari beberapa perspektif. Pertama, dari perspektif etika atau kepatutan politik. Apa yang dilakukan oleh JK dengan Golkar menunjukkan ambisi kekuasaan yang terlalu besar merasuki banyak tubuh dari aktivis partai ini. Sehingga ambisi ini kemudian telah dengan cergas membutakan rasionalitas kekuasaan yang sejatinya dijunjung oleh partai dan segenap aparatnya. Baru beberapa bulan lalu kita mendengar bahwa partai ini dengan santun akan mendeklarasikan masalah kursi presiden ini pasca pemilu legislatif. Pilihan yang arif dan menunjukkan kedewasaan politik yang kuat. Pada level ini, kita bisa melihat bagaimana Golkar yang sudah memelepori diri menjadi partai modern menunjukkan perilaku dan sikap politik yang pantas dan berwibawa. Kedua, dari sudut pandang komunikasi politik dan performance kekuasaan. Apa yang dilakukan dan terjadi pada Golkar sepertinya justru tengah mencabik-cabik dirinya sendiri. Sebab siapapun mengetahui dengan baik bahwa pemerintah saat ini dikonstruksi oleh PD dan PG selain partai-partai politik lainnya. Artinya, baik buruk apa yang terjadi pada pemerintah, sangat berkaitan langsung dengan apa yang mereka lakukan. Mungkin rakyat dengan nada heran bertanya, jika demikian halnya, maka apa yang dilakukan oleh Golkar selama ini hanya sebagai pelengkap saja, dan Golkar ‘tidak ngapa-ngapain’. Lalu, bagaimana gambaran kemudian pertarungan di masa pemilu nanti, dengan pandangan sekilas kita bisa melihat bagaimana mereka saling menampilkan keunggulannya di arena-arena kampanye. Hanya, bagi kita sebagai publik, yang kemudian akan dinilai bukan lagi materi kampanye—apakah mengecam yang ada atau melanjutkan—namun etika berpolitiknya. Selain itu, yang patut kita sayangkan adalah, bahwa sikap-sikap ambisi kekuasaan itu terlalu menonjol dalam proses perolehannya. Bahkan yang kemudian menjadi kekawatiran publik adalah bagaimana pasangan yang tengah sama-sama diamanahi kekuasaan justru kemudian bertarung saling berebut kursi tersebut.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||







dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...