|
Ibarat dalam sebuah pesta, maka peserta atau undangan pesta tersebut pasti memiliki beragam karakter, entah itu suku bangsa, bahasa, warna kulit, dan adat istiadat. Tetapi satu hal yang sama, dalam sebuah pesta, semua berprinsip atau memiliki adab yang sama: semua saling menghormati perbedaan tersebut.
Keindahan demokrasi yang baru beberapa tahun dinikmati bangsa Indonesia nyaris seperti pesta di atas. Dihadiri dan diharapkan oleh banyak orang yang beragam namun dengan harapan yang sama. Setiap pesta mengharapkan akhir yang bahagia. Ada mempelai atau pemangku hajat yang memiliki acara, dan ada undangan yang menyemarakkan suasana.
Mari kita bayangkan jika pesta itu dihadiri oleh peserta yang mirip robot atau zombie, yang tidak memiliki semangat dan dinamika sama sekali. Maka pesta tersebut akan dingin dan basi. Sehingga tidak akan tampil keindahan di dalamnya.
Untuk menjadi peserta pada sebuah pesta demokrasi, tentu semua orang harus memahami aturan mainnya. Tidak boleh ada pihak—siapapun itu—yang melakukan kekerasan, pemaksaan, atau tindakan-tindakan tidak terhormat lainnya, kepada pihak lain. Jika pun ada ketidaksetujuan atas sebuah statemen, atau tulisan, atau apa saja, semua ada mekanisme salurannya. Sehingga, dengan mengikuti saluran tersebut, semua orang—entah yang disinggung atau yang menyinggu—tetap terhormat.
Ada baiknya kita kembali membuka kertas sejarah bagaimana Bapak-bapak bangsa kita mengelola keragaman ini. Lihat bagaimana Isa Anshari, M. Natsir, dan Soekarno, misalnya, yang berdebat hebat membicarakan ideologi, atau hal-hal yang terkait dengan bangsa ini. Penyair Taufik Ismail dengan indah menggambarkan keadaan itu dalam puisinya sebagai “serasa panggung terbakar”. Namun begitu turun, mereka selalu duduk bersama dalam satu meja dengan penuh kehangatan. Demikian indahnya perbedaan dalam sebuah pesta demokrasi.
Akhir-akhir ini, jagad politik kita dihebohkan oleh sebuah tulisan yang merupakan hasil investigasi seorang ilmuwan kondang: GJA. Meski buku itu kemudian banyak dikritik sebagai tidak memiliki landasan teoritis dan metodologis yang jelas, namun tetap saja kehebohan dari buku ini terus bergulir.
GJA boleh saja mengungkapkan apa yang menjadi perhatiannya tersebut. Namun tentu saja, dalam proses pengkomunikasiannya ke publik, sejatinya sebagai ilmuwan, tidak terlibat pada hal-hal yang merusak sehingga mengelimininasi substansinya. Kasus pemukulan (atau apa saja namanya) pada RP misalnya, tidak mesti terjadi jika memang merasa bagian dari pesta demokrasi di negeri ini.
Pada tahun 2010 ini, mari jadikan momen untuk merayakan demokrasi dengan tidak sedikitpun menodai keindahannya.
|
dari visi dan orientasi leadership pa...
Ass.wr.wb makasih pak atas artikel ny...